Secang
Secang merupakan salah satu tanaman rempah yang cukup dikenal di Nusantara. Kayu secang biasanya digunakan sebagai pewarna kain alami maupun sebagai bahan masakan dan minuman. Kayu secang memiliki nama ilmiah Caesalpinia sappan. Pohon secang telah dibudidayakan sejak lama di India, Asia Tenggara hingga Pasifik. di Indonesia sendiri secang dengan berbagai nama seperti Sepeung (Aceh), Sepang (Gayo), Kayu Secang (Jawa), Sunyiha (Ternate), Hong (Alor), Hape (Sawu), Roro (Tidore), sepe (Rote), Sepel (Timor), Sopang (Toba). Dalam bahasa Inggris kayu secang dikenal sebagai sappanwood.
Secang sering dimanfaatkan sebagai penghasil zat warna baik makanan, pakaian, anyaman dan bahan lain. Pada masa lalu kayu secang ditanam sebagai komoditas perdagangan antar bangsa, namun saat ini pamor secang menurun karena banyaknya bahan pewarna sintetik yang lebih murah.
Selain itu secang juga memiliki manfaat untuk pengobatan. Kandungan utama secang adalah Brazilin yaitu zat warna merah-sappan, asam tanat dan asam galat. Brazilin memiliki sifat anti oksidan, anti bakteria, anti inflamasi anti photoaging, hypoglycemic (menurunkan kadar gula darah), vasirelaxant (merelaksasi pembuluh darah), hepatoprotective (melindungi hati), dan anti acne (anti jerawat).
Dalam teks-teks kuna Nusantara, kayu secang sering disebutkan sebagai salah satu bahan ramuan obat, baik itu dalam bentuk boreh (ramuan yang dioleskan pada kulit) maupun jamu untuk diminum. Kayu secang juga seringkali digunakan untuk memandikan bayi yang terkena biang keringat. Biasanya para ibu atau nenek merebus sejumput serutan kayu secang dengan air, lalu digunakan untuk memandikan bayi ketika airnya sudah mulai suam-suam kuku. Kenangan mandi masa kecil inilah yang membuat Arcamana Project ingin menampilkan kembali kayu secang dalam sebatang sabun yang diperkaya dengan aroma eucalyptus essential oil.
sumber referensi :
wikipedia
serat parem saha boreh koleksi rekso pustoko Mangkunegaran

Comments
Post a Comment